Terkadang kita menolak untuk melihat kenyataan karena sudah terlalu terbuai dengan bayangan yang kita ciptakan sendiri. Kadang juga terlalu memuja masa lalu sehingga tidak siap di hadapkan dengan saat ini. memilih untuk tutup mata. Kau tahu apa itu namanya? Penyangkalan

Putri dan Benteng yang Tidak Bisa Runtuh

Di dalam sini, ada sebuah benteng besar yang tidak bisa dilewati. Tidak oleh siapapun. Di dalamnya seorang putri kecil bersembunyi.

Putri tidak pernah keluar. Jika satu kali saja ia menginjakkan kakinya keluar dari benteng, ia berubah menjadi monster.

Sebisa mungkin putri tidak keluar walaupun putri ingin sekali bertemu manusia lain. Ia tidak bisa. Monster ini semakin mengganggunya.

Putri menunggu seseorang datang. Menghancurkan benteng dan membunuh monster di dalam dirinya. Tidak ada yg datang.

Tidak ada yang datang. Putri tidak terkejut. Ia tahu dengan jelas bahwa hal itu akan terjadi. Putri hanya diam. Terus bersembunyi di sana.

Sampai akhir putri tetap menunggu. Benteng tidak pernah runtuh. Putri masih bersembunyi. Tidak ada yg tahu. Dan waktu terus berjalan berlalu

Kau tahu apa yang paling ironis?

Aku menyuruhmu untuk pergi karena aku tidak ingin kamu di sini. Kau tetap memaksa untuk tinggal dan berusaha membuatku mengubah pilihan. Saat aku mulai menerimamu, kamu pergi tanpa sepatah kata. meninggalkanku yang menginginkanmu  lebih dari dunia. Aku dengan kata-kataku dan kamu dengan keputusanmu yang lelah menunggu.

Banyak hal yang terjadi ternyata selama kita tidak berbicara. Asumsimu misalnya. Aku bahkan tidak tahu hal itu.

Kamu (Tidak) Akan Pernah Tahu

Tahukah kau rasanya mencinta sendirian?

Tidak ada yang tahu badai apa yang terjadi di dalam sini, tidak ada yang tahu akibat dari senyum yang kau lempar begitu saja ke seluruh penjuru ruangan. Tidak, kamu pun tidak akan tahu.

Tidak ada yang tahu betapa bahagianya aku saat tatapan kita bertumpu dan detik-detik yang menjadikan jeda terasa seperti dunia milik kita dan berhenti begitu saja. Semua terasa berputar, berotasi pada matamu yang kelam bagai malam. Tidak, kamu pun tidak akan tahu.

Tidak ada yang tahu momen saat kau berbicara kepadaku entah itu apa, suara lain terasa bising belaka. Melambung bahagia bagai berada di atas komidi putar pada kecepatan tertinggi. Tidak, kamu pun tidak akan tahu.

Tidak ada yang tahu saat akhirnya keluar juga kata-kata dari mulutku menyatakan padamu suka yang melambung tinggi ini dan kau balas dengan diam tak berkesudahan. Setiap ketukan waktunya menyayatku perlahan dan dalam. Tidak, kamu pun tidak tahu.

Bahkan saat kita berbicara hingga larut bertandang dan pelukan semakin erat, semua seperti mimpi yang dijual oleh penjual mimpi yang meraup keuntungan berlebih dari kenaikkan harga mimpi akhir-akhir ini. Kita habiskan malam tanpa peduli esok akan datang. Semua itu, tidak ada yang tahu, kan?

Pada akhir cerita, semua hanya milikku seorang. Tanpa kamu tahu atau bahkan peduli akan semua ketidaktahuanmu di sini. Cinta, memang bukan selalu milik kita. Hanya aku yang merasa. Tidak sayang, kamu tidak akan pernah tahu.

Kamu bilang kita sebebas merpati. Kamu bilang aku boleh berpapasan dengan dia lainnya. Kamu bilang tidak ada ikatan di sini. Tidakkah kamu sadar kalimatmu itu adalah jerat yang sangat mengikat? Aku masih di sini. Menunggu kamu bebaskan dari semua.

Tidakkah kau sadar semua yang kau katakan berujung sayatan di sini?

Lana

“Bagaimana jika kita bahagia saja di sini bersama?”

Dia hanya tersenyum tanpa menjawab. Ada jeda yang melelahkan menunggu jawabannya dan mehanan untuk tidak menciumnya saat tersenyum. Cincin bundar tanpa cela itu masih saja berada di kotaknya, tak tersentuh. Dia tidak mau menyentuhnya. Jeda yang melelahkan. Dan aku tidak tahan untuk tidak menciumnya.

Dia adalah Lana. Lana yang selalu ada di sana, menungguku dengan senyum terhangat yang dia punya. Sahabat dan cinta. Banyak tahunan yang kuhabiskan bersamanya. Tak terhitung berapa juta pesan kukirim padanya. Entah berapa puluh rindu kulepaskan saat di sebelahnya. Lana, adalah segalanya bagiku.

Lana bagaikan bunga matahari yang mengikuti ke mana matahari berada. Lana senang berada di bawahnya. Tempat favorit nya pantai, karena di sanalah jarak terdekatnya dengan matahari. Lana senang piknik di siang hari. Dia sering menyuruhku membawa sekeranjang besar untuk piknik bersama. Lana adalah segalanya, matahari bagi bumiku.

Lana adalah seorang gadis bersahaja. Diterimanya aku tanpa pandang harta. Ditinggalkannya semua yang ia punya untuk mengikuti kemana kakiku melangkah. Aku memang seniman serabutan. Lana terlalu indah untukku. Tidak sepantasnya dia melakukan semua itu.

Lana sekarang berbeda. Tidak di sapanya lagi aku dengan senyum mataharinya, tidak ada lagi piknik atau sekedar ke pantai terdekat. Lana mungkin sadar akan semua. Tanpa Lana aku bukan siapa-siapa.

Hari ini kubawakan Lana sebuah kotak. Bertengger di dalam sana sebuah cincin dengan ukiran namaku dengannya. Sebuah cincin sederhana yang kubeli dengan uang seadanya. Lana terdiam saat kuucapkan kata-kata itu. Lalu tersenyum, bukan senyum mataharinya. Senyum yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Senyum iba. Aku tidak tahan melihatnya. Ingin ku rengkuh tubuhnya dan mencium bibir yang selalu sehangat matahari itu. Ada jeda melelahkan di situ. Aku tidak tahan ingin menciumnya. Lana bangkit berdiri. Berjalan menuju pintu lalu membukanya. “Maaf.” Lalu pintu menutup.

Lana adalah segalanya. Ternyata dia sudah menemukan buminya. Bukan aku, selama ini ternyata tidak pernah aku.

Mungkin kita perlu menyelami isi hati masing-masing. Jika memang benar kau miliknya, coba tatap mataku dan katakan yang sebenarnya.

Untuk kamu, iya, kamu yang itu. Kita tunggu benang yang mengikat ini mempertemukan kita nanti.

Agata Alexandra

Entah diujung sebelah mana, kita pasti bertemu. Melepas puluhan rindu bahkan sebelum tahu namamu.

Agata Alexandra

I had enough routine. Don’t even try to become one.

Kita ini produk manusia modern. Kita berpikir dalam konsep abu-abu. Perpanjangan dari individualitas dan rasionalitas. Sinis dan egois.

pembicaraan di suatu malam tanpa lelap

Memang manusia. Gak lengkap kalau gak bawa perasaan kemana-mana.

Karena itulah kenapa sekarang ada. Aku menolak untuk kalah. Biar semesta yang bicara, aku malas ada di sana.