Dalam rindu kau berdoa. Menyisipkan beribu kata cinta. Kepadanya yang tak sanggup kau rengkuh lagi tangannya.

Dalam lara kau duduk manis. Tak banyak kata, hanya diam hampir menangis.

Someday, some way, we’ll meet. And then we look into each other eyes and find happiness along the way. Or maybe we can meet halfway and runaway to some random place. With mini van would be nice. It’s your call.

Apa kabar, Tuan? Apakah masih di sana menunggu semesta memanggil giliran kita bersama?

Nona yang diujung sana

Mari kita berhenti sejenak. Membuat jeda lebih berjarak. Bukankan baik adanya memberi tempat kepada rindu untuk beranak pinak?

'Cause we were made to stay out of each other life. Even if we are perfectly happy together. That's how the universe works.

Lihatlah senja merayu, memintamu untuk terus merangkulku. Dan kau hanya diam menutupi diri yang tersipu malu.

Semesta angkat bicara. Katanya semua lara memang ada untuk bahagia. Selalu begitu adanya.

We’re not on the same page

We’re waiting, waiting for the universe. For the sign. To come and let us change. We’re waiting and tired of waiting.

When will the time come? Don’t you know we’re all waiting for that happen? Maybe the universe busy. Maybe there’s no sign in the first place

Deep down you know it for certain. We’re waiting. We’re waiting for nothing. No universe, no sign, no us. Just nothing. All along.

Maybe all we need is a sign. A sign that telling us there’s no sign. Let things happen and fuck universe. Let us alone.

Let us decide what’s going to be next. Maybe we’ll be together, maybe we grow apart. All I know for sure is we’re not on the same page.

There’s no sign. Universe laughing. And us? Here we are standing. Deciding and waiting. Nothing, nothing and nothing.

You’re leaving, I’m staying. After all we’re on different page. Nothing. There’s no such a thing like sign. That’s why we’re waving.

Goodbye it seems. And nothing holds us back. Because after all we’re not on the same page. Praying, loving, and wishing won’t do anything.

I wish I wrote the way I thought
Obsessively
Incessantly
With maddening hunger
I’d write to the point of suffocation
I’d write myself into nervous breakdowns
Manuscripts spiralling out like tentacles into abysmal nothing
And I’d write about you
a lot more
than I should

Benedict Smith / "I Wish I Wrote The Way I Thought" (via benedictsmith)

(Source: benedictsmith, via benedictsmith)

Terkadang kita menolak untuk melihat kenyataan karena sudah terlalu terbuai dengan bayangan yang kita ciptakan sendiri. Kadang juga terlalu memuja masa lalu sehingga tidak siap di hadapkan dengan saat ini. memilih untuk tutup mata. Kau tahu apa itu namanya? Penyangkalan

Putri dan Benteng yang Tidak Bisa Runtuh

Di dalam sini, ada sebuah benteng besar yang tidak bisa dilewati. Tidak oleh siapapun. Di dalamnya seorang putri kecil bersembunyi.

Putri tidak pernah keluar. Jika satu kali saja ia menginjakkan kakinya keluar dari benteng, ia berubah menjadi monster.

Sebisa mungkin putri tidak keluar walaupun putri ingin sekali bertemu manusia lain. Ia tidak bisa. Monster ini semakin mengganggunya.

Putri menunggu seseorang datang. Menghancurkan benteng dan membunuh monster di dalam dirinya. Tidak ada yg datang.

Tidak ada yang datang. Putri tidak terkejut. Ia tahu dengan jelas bahwa hal itu akan terjadi. Putri hanya diam. Terus bersembunyi di sana.

Sampai akhir putri tetap menunggu. Benteng tidak pernah runtuh. Putri masih bersembunyi. Tidak ada yg tahu. Dan waktu terus berjalan berlalu

Kau tahu apa yang paling ironis?

Aku menyuruhmu untuk pergi karena aku tidak ingin kamu di sini. Kau tetap memaksa untuk tinggal dan berusaha membuatku mengubah pilihan. Saat aku mulai menerimamu, kamu pergi tanpa sepatah kata. meninggalkanku yang menginginkanmu  lebih dari dunia. Aku dengan kata-kataku dan kamu dengan keputusanmu yang lelah menunggu.

Banyak hal yang terjadi ternyata selama kita tidak berbicara. Asumsimu misalnya. Aku bahkan tidak tahu hal itu.

Kamu (Tidak) Akan Pernah Tahu

Tahukah kau rasanya mencinta sendirian?

Tidak ada yang tahu badai apa yang terjadi di dalam sini, tidak ada yang tahu akibat dari senyum yang kau lempar begitu saja ke seluruh penjuru ruangan. Tidak, kamu pun tidak akan tahu.

Tidak ada yang tahu betapa bahagianya aku saat tatapan kita bertumpu dan detik-detik yang menjadikan jeda terasa seperti dunia milik kita dan berhenti begitu saja. Semua terasa berputar, berotasi pada matamu yang kelam bagai malam. Tidak, kamu pun tidak akan tahu.

Tidak ada yang tahu momen saat kau berbicara kepadaku entah itu apa, suara lain terasa bising belaka. Melambung bahagia bagai berada di atas komidi putar pada kecepatan tertinggi. Tidak, kamu pun tidak akan tahu.

Tidak ada yang tahu saat akhirnya keluar juga kata-kata dari mulutku menyatakan padamu suka yang melambung tinggi ini dan kau balas dengan diam tak berkesudahan. Setiap ketukan waktunya menyayatku perlahan dan dalam. Tidak, kamu pun tidak tahu.

Bahkan saat kita berbicara hingga larut bertandang dan pelukan semakin erat, semua seperti mimpi yang dijual oleh penjual mimpi yang meraup keuntungan berlebih dari kenaikkan harga mimpi akhir-akhir ini. Kita habiskan malam tanpa peduli esok akan datang. Semua itu, tidak ada yang tahu, kan?

Pada akhir cerita, semua hanya milikku seorang. Tanpa kamu tahu atau bahkan peduli akan semua ketidaktahuanmu di sini. Cinta, memang bukan selalu milik kita. Hanya aku yang merasa. Tidak sayang, kamu tidak akan pernah tahu.